TAPSEL.WAHANANEWS.CO, Padangsidimpuan- Tak banyak yang tahu,sosok yang kini dikenal sebagai "Jenderal Rakyat" itu pernah menghabiskan masa kecilnya di jalanan. Hendrawan Hasibuan atau Hendra Hasibuan, lahir di Padangsidimpuan pada 1984, ditempa kerasnya kehidupan sejak belia.
Pada 1996–2000, ia menjadi anak jalanan dampingan Kelompok Kerja Sosial Perkotaan (KKSP) Sumatera Utara. Demi tetap bersekolah, Hendra kecil berjualan rokok asongan. Keterbatasan ekonomi tak memadamkan semangatnya menuntut ilmu hingga akhirnya ia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) dan diwisuda pada 2011.
Baca Juga:
Rela Jalan Menembus Hutan, Ibu Bhayangkari Pandu Helikopter Bantuan ke Desa Terisolir Tapanuli Tengah
Aktivis Kampus hingga Penggerak Desa
Semasa mahasiswa, jiwa aktivismenya telah tumbuh kuat. Ia aktif dalam demonstrasi, diskusi, serta pengorganisasian mahasiswa lintas kampus. Bahkan, ia menjadi salah satu pendiri KOMPEL UMTS, organisasi pecinta alam yang masih bertahan hingga kini.
Perjalanan advokasinya dimulai saat mengikuti pendidikan Community Organizer yang digelar BITRA Indonesia pada 2003. Sejak saat itu, ia terjun langsung mendampingi masyarakat sekitar hutan di Tapanuli Selatan.
Baca Juga:
Hujan Deras Polres Binjai Tetap Laksanakan Patroli
Antara 2005–2007, ia terlibat dalam program pengelolaan Taman Nasional Batang Gadis bersama konsorsium lembaga lingkungan, termasuk WALHI Sumatera Utara. Fokusnya jelas: memperkuat posisi masyarakat dalam menjaga hutan dan ruang hidup mereka.
Lahirkan Organisasi Rakyat
Tahun 2011 menjadi tonggak baru. Bersama rekan-rekannya, Hendra mendirikan Jaringan Advokasi Masyarakat Marjinal (JAMM). Dari sana, lahir berbagai organisasi rakyat yang bergerak di isu konflik lahan, UMKM, hingga konservasi hutan.
Julukan "Jenderal Rakyat" melekat karena konsistensinya mencetak kader-kader pejuang lingkungan. Ia turut menginisiasi penguatan kelompok konservasi di kawasan Batangtoru yang kini dikenal sebagai habitat Orangutan Tapanuli — spesies orangutan langka yang menjadi ikon baru konservasi dunia.
Melihat ancaman deforestasi dan aktivitas ekstraktif yang terus menggerus habitat satwa dilindungi, Hendra menggagas Forum Konservasi Orangutan Tapanuli (FOKAT) sebagai wadah advokasi khusus penyelamatan spesies tersebut.
Kalpataru dan 110 Kader Konservasi
Salah satu pencapaian pentingnya adalah saat komunitas dampingan HATABOSI meraih penghargaan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup atas keberhasilan menjaga sumber air dan hutan seluas ±3.000 hektare.
"Selama sembilan tahun berjuang bersama mereka, penghargaan itu menjadi kepuasan tersendiri," ujarnya saat berbincang, Kamis (12/2/2026).
Tak berhenti di sana, sebanyak 110 warga dikukuhkan sebagai kader konservasi oleh BBKSDA Sumatera Utara. Mereka kini menjadi garda terdepan menjaga hutan Batangtoru.
Tetap Konsisten Meski Tanpa Donor
Berbeda dengan banyak NGO lain, Hendra mengakui lembaganya tidak memiliki donor tetap. Namun, hal itu tak menyurutkan langkahnya. Ia bahkan pernah bekerja sebagai surveyor Litbang Kompas demi menjaga roda perjuangan tetap berputar.
Kini, ia dipercaya sebagai Ketua DPW Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sumatera Utara. Di berbagai forum publik dan media, ia konsisten menyuarakan gerakan green civil society serta keberpihakan pada rakyat kecil.
Bagi Hendra, perjuangan menjaga hutan dan membela kaum marjinal bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan panggilan hidup.
"Selama rakyat masih ditindas dan hutan terus dirusak, suara kritik itu tidak akan berhenti. Semua makhluk hidup berhak hidup sejahtera, dan hutan berhak lestari," tegasnya.
[Redaktur: Muklis]