TAPSEL.WAHANANEWS.CO, Tapanuli Selatan- Air berwarna cokelat masih menggenangi jalan ketika Tim Aliansi Batang Toru (BETA) memasuki Desa Bandar Tarutung, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, Senin (12/1/2026) sore. Di tengah lumpur, bau banjir, dan trauma warga yang belum pulih, bantuan kemanusiaan akhirnya tiba membawa harapan baru bagi masyarakat terdampak banjir di wilayah tersebut.
Jalan menuju perkampungan masih digenangi air keruh akibat luapan Sungai Batang Toru dan Sungai Malombu, memaksa rombongan melaju perlahan menggunakan satu unit mobil Triton demi memastikan bantuan sampai ke tangan warga.
Baca Juga:
Sambut Tahun 2026 dengan Doa dan Donasi untuk Korban Banjir Sumatra
Di desa yang masih dibayangi trauma banjir bandang itu, kehadiran tim dari organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Batang Toru yakni, Samudera, Elsaka, SRI, GJI, Walhi Sumut, OICbersama JAMM dan Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sumatra Utara disambut dengan haru.
Mereka datang membawa bantuan tahap kedua berupa makanan kering siap konsumsi, hygiene kit, serta logistik kebutuhan dasar bagi warga yang masih berjuang memulihkan kehidupan sehari-hari.
Kepala Desa Bandar Tarutung, H. Sulhan Sihombing, tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya. Di tengah lumpur yang masih melekat di halaman rumah warga, ia menyampaikan terima kasih mewakili masyarakatnya.
Baca Juga:
Menkeu Purbaya Sudah Cairkan Dana Rp268 Miliar Untuk Korban Bencana Sumatra
"Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Saat warga masih bingung bagaimana melanjutkan hidup pascabanjir, kehadiran bapak dan ibu semua memberi harapan," ucapnya dengan suara bergetar.
Tim kemudian menyusuri pemukiman warga. Di salah satu sudut desa, tampak ibu-ibu mencuci pakaian menggunakan air sungai yang keruh. Pemandangan itu membuat Ketua SHI Sumut, Hendra Hasibuan, terdiam sejenak.
"Air ini tidak layak, tapi mereka tidak punya pilihan. Ini bukan hanya soal banjir, tetapi tentang kebutuhan dasar manusia yang belum terpenuhi," ujarnya lirih.
Ketua Green Justice Indonesia (GJI), Sofyan Adli, yang telah puluhan tahun menjadi relawan bencana di berbagai daerah di Indonesia, menilai apa yang terjadi di Angkola Sangkunur bukan sekadar musibah alam.
"Ini pengingat bagi kita semua. Ketika alam rusak, masyarakat kecil yang pertama kali menanggung dampaknya," katanya.
Dari Bandar Tarutung, rombongan melanjutkan perjalanan ke Kampung Tanah Lapang, Desa Batu Godang. Di dusun ini, warga masih menyimpan cerita tentang air yang datang tiba-tiba, merendam rumah, dan memutus aktivitas sehari-hari. Kepala Dusun Kampung Tanah Lapang, Hanto Gulo, mewakili warganya menyambut bantuan dengan mata berkaca-kaca.
"Kami tidak bisa membalas apa-apa. Hanya doa yang bisa kami panjatkan agar bapak dan ibu semua selalu diberi keselamatan," ucapnya.
Hingga kini, akses menuju perkampungan di Desa Bandar Tarutung masih terbatas. Perahu karet menjadi alat bantu utama bagi warga dan pengendara roda dua, sementara kendaraan roda empat harus ekstra hati-hati melewati genangan air.
Di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru, tumpukan kayu gelondongan terlihat menghambat aliran sungai. Warga bercerita, kayu-kayu yang hanyut dari hulu menumpuk hingga berkilometer di wilayah hilir dekat Aek Rambe, membuat perahu sulit melintas.
"Kalau mau ke ladang atau ke desa sebelah, kami harus memutar jauh. Sungai sudah tidak bisa dilewati," tutur seorang warga.
Bagi warga Bandar Tarutung dan Kampung Tanah Lapang, bantuan yang datang bukan sekadar paket logistik. Ia menjadi penanda bahwa di tengah lumpur, air keruh, dan kehilangan, mereka tidak sendirian menghadapi bencana.
[Redaktur: Muklis]