TAPSEL.WAHANANEWS.CO, Puncak Sorik Marapi- Mengingat ikatan sejarah persaudaraan Desa Sibanggor Julu dengan Desa Janjimanaon berakar dari sejarah pengungsian akibat letusan Gunung Sorik Marapi sekitar tahun 1918.
Letusan tersebut memaksa penduduk saat itu disekitar wilayah kaki gunung ada yang bertahan sebagian mengungsi ke daerah Batang Angkola yaitu Desa Janjimanaon dan kala itu masih sama-sama Kabupaten Tapanuli Selatan.
Baca Juga:
Bupati Tapteng Terima Audiensi Civitas STAI Barus
Adapun detail latar belakang ikatan tersebut ketika terjadi letusan pada Gunung Sorik Marapi,warga Singa Jambu atau yang sekarang diganti nama desanya Sibanggor Julu (termasuk wilayah Sibanggor Julu dan sekitarnya) melarikan diri/mengungsi ke Batang angkola demi menyelamatkan diri.
Selanjutnya, Pada saat itu warga yang mengungsi dari lereng Sorik Marapi (Singa Jambu) membuka perkampungan baru di Desa Janjimanaon, para orang tua kala itu memberikan nama Desa/kampung dengan Janjimanaon. Nama ini berasal dari kata Janji (berjanji) dan Mana on (bertahan), maka istilah ini merujuk pada kesepakatan atau janji bertahan hidup dari para leluhur saat mengungsi di wilayah baru tersebut.
Dengan adanya bencana letusan tersebut maka sampai sekarang Desa Sibanggor Julu di Kabupaten Mandailing Natal dengan Desa Janjimanaon di Kabupaten Tapanuli Selatan tidak dapat dipisahkan sampai sekarang, meskipun lokasinya sudah berbeda.
Baca Juga:
Sejarah Berdirinya Satuan 81 Kopassus, Pasukan Elit Anti Teror TNI Bentukan Prabowo Subianto Dan Luhut Panjaitan

Peristiwa letusan di kaki Sorik Marapi menjadi titik tolak nenek moyang masyarakat dikedua wilayah tersebut, maka sampai saat ini kedua desa melakukan kunjungan bersama untuk sama-sama berziarah.
Dalam penyambutan ini dihadiri Camat Puncak Sorik Marapi Rahmad Hidayat, Anggota DPRD Awaluddin Nasution,Kades beserta aparat desa dan seluruh masyarakat Sibanggor Julu.
Salah satu tokoh Adat Sibanggor Julu, Muklis Nasution Gelar Radja Sibanggor yang juga anggota Forum Pelestarian dan Pengembangan Adat Budaya (FPPAB) Kabupaten Mandailing Natal mengatakan," sampai sekarang Desa Sibanggor Julu dengan Desa Janjimanaon meskipun lokasinya berbeda tidak dapat dipisahkan, baik dalam teradisi leluhur maupun karakter adat istiadatnya sampai sekarang, makanya sudah tradisi bagi kami untuk melaksanakan pertemuan akbar setiap setahun sekali," ujarnya.
Radja Sibanggor juga berpesan kepada saudara saudari yang tinggal di desa Janjimanaon kita masih punya situs sejarah nyata yang harus kita ingat sebagai Panuak Banua (pembuka kampung) kita yaitu Baginda Marpayungaji yang terus kita ziarahi makamnya, Surat Stambuk (Tumbaga Holing) dan Keris Pusaka/Tongkat radja yang saat ini sudah ratusan tahun sampai sekarang masih saya pegang.
"Adapun kegiatan pertemuan akbar tersebut adalah melaksanakan doa bersama mengenang para leluhur/ pendahulu kami, melakukan silaturrahmi terkait tingkat peradaban yang meliputi sejarah silsilah keturunan/ marga ( tarombo), tuntunan dalam tutur antar sesama, makan bersama untuk mengenang sesama yang berasal dari satu kampung dan sebagainya," tutupnya, Minggu (5/7/2026).
Radja juga berharap pertemuan ini sangat penting untuk mengingat para pendahulu kita, karena kelak menjadi bukti nyata desa Sibanggor Julu erat kaitannya dengan desa Janjimanaon begitu juga sebaliknya.
[Redaktur: Muklis]