TAPSEL.WAHANANEWS.CO, Padangsidimpuan- Ramadan selalu menghadirkan suasana berbeda. Di balik tembok tinggi dan pintu-pintu besi, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar merdu dari kamar hunian warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Padangsidimpuan, Sabtu (21/2/2026).
Satu per satu warga binaan membaca ayat demi ayat dengan suara lirih namun penuh penghayatan. Rekan di sebelahnya menyimak dengan khusyuk, sesekali membenarkan tajwid yang kurang tepat. Di ruang terbatas itu, Ramadan menghadirkan keluasan hati, tentang penyesalan, harapan, dan keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Bagi sebagian warga binaan, tadarusan bukan sekadar rutinitas. Kegiatan ini menjadi ruang perenungan. Ada yang mengaku baru mulai lancar membaca Al-Qur’an selama berada di lapas. Ada pula yang menjadikan momen ini untuk mendoakan keluarga di rumah, berharap kelak kembali dengan versi diri yang telah berubah.
Kepala Sub Seksi Registrasi dan Bimbingan Kemasyarakatan (Bimkemas), Muhammad Raja, mengatakan bahwa program tadarusan merupakan agenda rutin setiap Ramadan. Namun lebih dari itu, kegiatan ini adalah jembatan pembinaan mental dan spiritual.
"Ramadan adalah waktu terbaik untuk introspeksi. Kami ingin warga binaan memanfaatkan momen ini untuk memperbaiki diri dan memperkuat keimanan," ujarnya.
Dengan pengawasan yang tetap mengedepankan keamanan dan ketertiban, suasana tadarusan berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan. Petugas tak hanya mengawasi, tetapi juga memberi semangat dan motivasi.
Di balik jeruji, Ramadan membuktikan bahwa harapan tak pernah benar-benar terkurung. Lantunan ayat suci yang menggema di kamar-kamar hunian menjadi saksi bahwa setiap insan selalu memiliki kesempatan untuk berubah, memperbaiki diri, dan menata masa depan yang lebih baik.
[Redaktur: Muklis]