Ketua Green Justice Indonesia (GJI), Sofyan Adli, yang telah puluhan tahun menjadi relawan bencana di berbagai daerah di Indonesia, menilai apa yang terjadi di Angkola Sangkunur bukan sekadar musibah alam.
"Ini pengingat bagi kita semua. Ketika alam rusak, masyarakat kecil yang pertama kali menanggung dampaknya," katanya.
Baca Juga:
Sambut Tahun 2026 dengan Doa dan Donasi untuk Korban Banjir Sumatra
Dari Bandar Tarutung, rombongan melanjutkan perjalanan ke Kampung Tanah Lapang, Desa Batu Godang. Di dusun ini, warga masih menyimpan cerita tentang air yang datang tiba-tiba, merendam rumah, dan memutus aktivitas sehari-hari. Kepala Dusun Kampung Tanah Lapang, Hanto Gulo, mewakili warganya menyambut bantuan dengan mata berkaca-kaca.
"Kami tidak bisa membalas apa-apa. Hanya doa yang bisa kami panjatkan agar bapak dan ibu semua selalu diberi keselamatan," ucapnya.
Hingga kini, akses menuju perkampungan di Desa Bandar Tarutung masih terbatas. Perahu karet menjadi alat bantu utama bagi warga dan pengendara roda dua, sementara kendaraan roda empat harus ekstra hati-hati melewati genangan air.
Baca Juga:
Menkeu Purbaya Sudah Cairkan Dana Rp268 Miliar Untuk Korban Bencana Sumatra
Di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru, tumpukan kayu gelondongan terlihat menghambat aliran sungai. Warga bercerita, kayu-kayu yang hanyut dari hulu menumpuk hingga berkilometer di wilayah hilir dekat Aek Rambe, membuat perahu sulit melintas.
"Kalau mau ke ladang atau ke desa sebelah, kami harus memutar jauh. Sungai sudah tidak bisa dilewati," tutur seorang warga.
Bagi warga Bandar Tarutung dan Kampung Tanah Lapang, bantuan yang datang bukan sekadar paket logistik. Ia menjadi penanda bahwa di tengah lumpur, air keruh, dan kehilangan, mereka tidak sendirian menghadapi bencana.