Sementara itu, Prof. Suswati menjelaskan penetapan lahan di Hutatonga sebagai pilot project karena konturnya lebih baik dari lahan di Sipalangka. Mengingat program ini merupakan prioritas Pemkab Madina, pihaknya mencari lokasi terbaik.
"Pertimbangannya adalah yang pertama, kesehatan tanah di sini lebih tinggi, karena risiko daripada penyakit darah, penyakit layu fusarium itu recovery-nya 20 tahun," ujar dia.
Baca Juga:
Bupati Madina Letakkan Batu Pertama Bedah Rumah 505 Unit Program BSPS
Prof. Suswati menerangkan pisang kepok yang ditanam akan diperbanyak dengan kultur jaringan tanpa bunga jantan. "Jadi, ini bisa escape atau terbebaskan dari penularan penyakit darah bakteri oleh serangga," jelas dia.
Suswati pun mengaku diperlukan strategi khusus untuk menyukseskan program Pemkab Madina dalam rangka mengembalikan kejayaan dari pisang Sitabar (pisang kepok-red) yang hilangn sekitar 22 tahun belakangan ini.
Adapun pemasaran pisang kepok original (non-olahan) cukup terbuka seiring dengan menjamurnya cafe-cafe atau gerak kopi kekinian di daereah maupun di ibu kota provinsi.
Baca Juga:
Bupati Madina Buka Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama 13 OPD
Dalam kesempatan ini, Bupati Saipullah didampingi Asisten I Drs. M. Sahnan Pasaribu, Kadis Pariwisata Syukur Soripada Nasution, Kadis Perikanan Alinafiah, Kadis Kominfo M. Syail Lubis, dan Camat Panyabungan Barat Ainannur.
[Redaktur: Muklis]