"Kita tidak ingin ada pihak yang dirugikan akibat kesimpulan yang terburu-buru. Adat mengajarkan musyawarah, tabayyun, dan saling menghormati," ungkapnya.
Terkait substansi adat itu sendiri, Hasanul menegaskan bahwa adat Mandailing merupakan warisan budaya yang memiliki tata nilai, filosofi, serta ketentuan yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, setiap praktik yang dikaitkan dengan adat perlu dipahami berdasarkan sumber, sejarah, dan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Baca Juga:
Bung AOL Pejuang Kemerdekaan RI & Tokoh Pers Indonesia Asal dari Mandailing
Ia menilai polemik yang berkembang saat ini justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap adat dan budaya Mandailing.
"Perbedaan pandangan yang muncul hendaknya menjadi ruang pembelajaran bersama agar generasi muda semakin mengenal dan memahami adat Mandailing secara benar, bukan sekadar melalui potongan-potongan konten media sosial," katanya.
Hasanul Arifin juga mengingatkan para pembuat konten dan pihak yang menyebarluaskan video agar lebih memperhatikan konteks budaya yang ditampilkan.
Baca Juga:
Madayansyah Tambunan, Politikus Gerindra Dipercaya Menjadi Dewan Hakim MTQ
Menurutnya, setiap konten yang menampilkan simbol dan atribut budaya sebaiknya disertai penjelasan yang memadai agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.
Sebagai Ketua FPPAB Madina sekaligus Raja Panusunan Mandailing Godang, Hasanul mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga marwah adat melalui sikap yang bijaksana dan bertanggung jawab.
"Adat Mandailing adalah warisan bersama. Menjaganya bukan hanya melalui pakaian dan prosesi, tetapi juga melalui cara kita berdialog, menyampaikan pendapat dan menghormati sesama. Mari kita jadikan peristiwa ini sebagai momentum memperkuat persatuan dan kecintaan terhadap budaya Mandailing," pungkasnya.