TAPSEL.WHANANEWS.CO, Tapanuli Selatan- Pagi itu, Senin (26/1/2026), halaman SD Negeri 101305 Kampung Malako kembali dipenuhi tawa. Satu per satu anak berseragam merah putih datang ke sekolah mereka, ada yang berjalan kaki, ada pula yang mengayuh sepeda kecilnya. Wajah-wajah polos itu tampak semringah. Setelah berbulan-bulan diliputi lumpur dan genangan air, sekolah mereka akhirnya hidup kembali.
Sebanyak 172 siswa dan para guru SD Negeri 101305, Desa Bandar Tarutung, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, kembali menjalani kegiatan belajar mengajar seperti sediakala. Upacara bendera pun digelar di halaman sekolah yang kini tampak bersih, tanpa sisa lumpur atau genangan air.
Baca Juga:
Lewat Edukasi dan Kolaborasi, IDAI Serukan Waspada Penyakit Jantung Reumatik Sejak Dini
Pemandangan ini terasa istimewa. Pasalnya, selama hampir dua bulan terakhir, sekolah satu-satunya di kampung itu porak-poranda akibat banjir besar yang melanda pada 25 November 2025 lalu. Air setinggi hingga 1,5 meter dari luapan Sungai Batangtoru masuk ke ruang kelas, membawa lumpur setebal hampir setengah meter. Bangku rusak, buku-buku hancur, dan halaman sekolah berubah menjadi kubangan.
"Usai libur semester, anak-anak tidak bisa belajar seperti biasa. Sekolah kami tidak bisa dipakai sama sekali," kenang Kepala SD Negeri 101305, Masnauli Nasution, kepada media.
Bersama guru-guru lainnya, ia hanya bisa pasrah melihat kondisi sekolah yang terkubur lumpur. Membersihkan sendiri bukanlah pilihan yang mudah.
Baca Juga:
Menteri PPPA Turun Langsung ke SMAN 72 Jakarta, Tekankan Pemulihan Trauma Anak Pascaledakan
Selama tiga pekan, para siswa terpaksa belajar di tenda darurat. Panas, sempit, dan minim fasilitas. Namun, harapan perlahan tumbuh ketika bantuan datang.
Lewat perintah Presiden Prabowo Subianto kepada Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak, yang diteruskan ke Pangdam I Bukit Barisan dan Kodim 0212 Tapanuli Selatan, puluhan personel TNI turun langsung membersihkan sekolah tersebut.
Anggota Koramil 19 Siais bersama personel Yonif 901 TP Simalungun berjibaku dengan lumpur. Mesin air dikerahkan untuk menyemprot sisa endapan, sementara alat berat mengangkut material banjir. Selama satu minggu penuh, mereka bekerja tanpa mengenal lelah.